Skenario

Skenario 1

BKSDA Semarang mendapatkan laporan dari salah satu stafnya Erianto Nugroho tentang ditemukannya 3 ekor rusa dikawasan Taman Nasional Merbabu. Ketiga ekor rusa tersebut ditemukan mati didaerah yang berdekatan. Berdasarkan pengamatan dan laporan stafnya diketahui bahwa rusa tersebut mati tidak diakibatkan oleh perburuan atau dimangsa oleh hewan predator.

Dari 3 ekor rusa yang ditemukan, 1 ekor rusa sudah dalam keadaan busuk dan 2 ekor rusa masih dalam keadaan segar. Jarak ditemukan ke tiga ekor rusa tersebut tidak jauh yaitu dalam satu area yaitu dalam area sekitar 100M2. Ketiga rusa yang ditemukan mati terlihat mengeluarkan darah dari lubang kumlah (anus, hidung dan mulut)

Proses investigasi dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel usap darah dan sampel usapan anus untuk dikirimkan ke Laboratorium BBVET Wates. Dari hasil investigasi juga diketahui bahwa sekitar 3 bulan lalu, ternak kerbau dan sapi dikawasan pemukiman juga mengalami kematian ternak yang cukup signifikan (15 ekor ternak dalam waktu 3 hari dengan gejala yang sama dan kematian yang tiba-tiba)

Dari hasil investigasi diketahui pola pemeliharaan ternak dikawasan konservasi adalah digembalakan dan sesekali ternak mereka memasuki kawasan konservasi

Sampai dengan saat ini tidak diketemukan korban manusia namun petugas yang menemukan rusa diketahui mengalami demam dalam 3 hari terakhir ini (NPTDTA)

Skenario 2

Pada tanggal 12 Desember 2016, Seorang petugas PEH yang sedang melakukan patroli bernama Monica menemukan seekor Orang Utan yang tergeletak diatas dahan dengan keadaan lemas. Orang utan tersebut ditemukan didaerah lereng di wilayah Taman Nasional Betung Kerihun yang berbatasan dengan daerah pedesaan. Orang utan tersebut terlihat mengalami luka terbuka yang cukup besar dibagian tangannya. Monica bersama-sama dengan Niki dan Taufik mencoba mendekati Orang Utan tersebut dan terlihat Orang Utan tidak memberikan respon.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terlihat bahwa Orang utan tersebut terlihat lemas dan tidak berdaya. Monica dan timnya cukup bisa memastikan bahwa Orang Utan tersebut terluka Karena jerat yang dipasang untuk Babi Hutan. Jerat masih terlihat membelit lengan kanan orang Utan. (NPDTA)

Skenario 3

Pada tanggal 15 Januari 2017, Salah satu petugas Polisi Hutan yang bernama Koko yang bekerja untuk BKSDA Jawa Timur menemukan Rusa Timur mati dipadang rumput dimana biasa ditemukan para satwa merumput. Dari hasil pemeriksaan fisik dapat dipastikan bahwa rusa bukanlah mati akibat serangan predator atau karena perburuan. Tidak terlihat jelas tanda—tanda umum pada satwa mati, salah satu yang tanda yang terlihat hanyalah adanya darah yang keluar dari lubang-lubang kumlah (anus, mulut dan hidung). Koko kemudian mengambil sampel berupa specimen darah yang keluar dari lubang-lubang kumlah dan mengambil foto yang diperlukan

http://agrilifecdn3.tamu.edu/wp-content/uploads/2016/09/AnthraxDeer.png

Lima hari kemudian kolega Koko sesama Polhut yang bernama Gozali juga menemukan Seekor Banteng Jawa mati dengan kondisi yang kurang lebih sama. Spesimen sampel diambil berupa usapan darah yang diambil dari lubang-lubang Kumlah.

Laporan ini kemudian dilaporkan kepada Kepala TN Baluran dan meminta bantuan Dokter Hewan untuk melakukan verifikasi terhadap temuan ini. Verifikasi dilakukan oleh Drh Andro dengan melakukan pemeriksaan informasi yang dikumpulkan dan wawancara dengan Koko dan Gozali. Sampel yang diterima kemudian dikirimkan ke BBVET Wates untuk dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit Anthraks.

Pada tanggal 25 Januari 2017, hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan kepada Drh. Andro dan kepala TN Baluran. Hasil menunjukan positif Anthraks. Berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan beberapa staf di TN Baluran bersama-sama Drh Andro dan Kepala TN Baluran memutuskan untuk melakukan Investigasi lanjutan untuk memastikan penyakit ini tidak membahayakan konservasi Banteng dan satwa lainnya di TN Baluran. Satwa-satwa mati cukup jauh dengan jarak ± 15 KM dengan pemukiman terdekat

Tim Investigasi dibentuk dengan juga melibatkan pihak eksternal yaitu dari FKH UNAIR, BBVET Wates, Kementan dan KemenLHK.

Berdasarkan hasil investigasi diketahui lebih lanjut bahwa secara total jumlah satwa yang ditemukan mati dengan gejala yang sama pada masa periode investigasi (tgl 27 Januari-2 Februari 2017) adalah 4 ekor dengan satwa sebagai berikut:

  1. 15 Januari 2017, Rusa Timur sebanyak 1 ekor
  2. 20 Januari 2017, Banteng Jawa sebanyak 1 ekor
  3. 28 Januari 2017, Banteng Jawa sebanyak 1 ekor
  4. 30 Januari 2017, Rusa Timur sebanyak 1 ekor

Image result for deer with anthrax

Berdasarkan pemeriksaan lanjutan semua menunjukan gejala positif terhadap Anthraks. Satwa-satwa tersebut ditemukan dalam radius 1 KM2 . Juga diketahui bahwa curah hujan cukup tinggi pada Bulan Januari 2017. Dari hasil diskusi internal tim Investigasi direkomendasikan bahwa TN Baluran akan melakukan surveilans secara intensif dilokasi tempat ditemukan satwa dalam radius lebih dari 10 KM2. (SPTDTA)

Skenario 4

Di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) selama 2 hari belakangan ditemukan satwa burung yang mati (dari informasi yang diperoleh dari Keeper ditemukan burung merak umur 3 tahun mati mendadak dan burung merak umur 2 tahun mati dengan menunjukan gejala mengeluarkan cairan dimulutnya). Pada hari ini tanggal 8 Mei 2016 Salah satu keeper di TSTJ yang bernama Niki juga melaporkan hal yang sama pada burung Merak lainnya dengan umur yang sama.

Temuannya ini kemudian dilaporkan kepada Drh. Nur yang bertanggung jawab untuk manajemen kesehatan di TSTJ. Drh. Nur kemudian mengambil sampel dari burung yang mati tersebut berupa sampel utuh burung dan dikirim ke BBVET Wates untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pada tanggal 10 Mei 2016, Drh. Nur menerima telepon dari BBVET Wates untuk memberitahukan bahwa sampel yang dikirim positif untuk Influenz A H5. Kemudian Drh. Nur melaporkan hasil temuannya dan berkoordinasi dengan pihak BKSDA Jawa tengah. Mengetahui hal ini pihak BKSDA dan Drh Nur merasa penting untuk melakukan beberapa tindakan lebih lanjut berupa investigasi yang lebih mendalam dan melibatkan pihak BBVET Wates, Dinas Kesehatan dan juga melakukan proses karantina untuk kandang burung. Sementara pihak manajemen juga melakukan pemberhentian kunjungan untuk para pengunjung dalam TSTJ dan segera melakukan proses disenfeksi pada kandang-kandang burung.

Dalam proses investigasi bersama terdapat beberapa faktor risiko yang ditemukan yaitu adanya bagaian dari kawasan TSTJ yang seringkali didatangi sekelompok burung kowak. Kawasan ini oleh pihak manajemen ditutup dan diawasi dengan harapan memperkecil kemungkinana transmisi penyakit dari luar kawasan TSTJ

Pengawasan/surveilans dilakukan terhadap burung Kowak ini oleh pihak BKSDA bersama-sama pihak BBVET untuk dilakukan pengambilan sampel untuk burung Kowak. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah burung Kowak ini adalah carrier pembawa virus H5 atau tidak. (SPTDTA)

Skenario 5

Pada tanggal 18 Juni 2016, BKSDA Jawa Timur mendapatkan laporan dari salah satu stafnya Ari Susteyojati tentang ditemukannya 2 ekor kerbau liar di kawasan Taman Nasional Baluran. Ketiga ekor rusa tersebut ditemukan mati didaerah yang berdekatan. Berdasarkan pengamatan dan laporan stafnya diketahui bahwa rusa tersebut mati diakibatkan oleh dimangsa oleh hewan predator.

2 ekor kerbau liar dalam keadaan sudah agak membusuk. Jarak ditemukan ke dua ekor kerbau liar tersebut tidak jauh yaitu dalam satu area yaitu dalam area sekitar 1,5 Km2. Ke dua kerbau liar yang ditemukan mati terlihat bekas predator dengan jelas yaitu terlihat sebagian besar bangkai kerbau liar telah habis dan hanya menyisakan beberapa bagian tulang

Lokasi kerbau liar yang ditemukan adalah daerah savana mendekati daerah aliran sungai dimana satwa biasa ditemukan merumput dan minum (NPTDTiA).