Skenario

Skenario 1:

Berdasarkan hasil pengamatan petugas lapangan tidak ditemukan kejadian di bulan Januari 2017. Pelaporan ke SMS gateway Sehat Satli dilakukan oleh [NAMA MASING-MASING]

Skenario 2:

Pada tanggal 15 Januari 2017, Salah satu petugas lapangan dari [TULISKAN MASING_MASING NAMA INSTANSI] yang bernama [NAMA MASING_MASING] [ALAMAT RUMAH MASING_MASING] menemukan Rusa Sambar (Cervus unicolor) mati yang berlokasi pada koordinat [KOORDINAT GPS untuk LOKASI KEJADIAN DI WILAYAH KERJA ANDA dalam Format Degree Minute Second] dimana biasa ditemukan para satwa merumput. Dari hasil pemeriksaan fisik dapat dipastikan bahwa rusa bukan mati akibat serangan predator atau karena perburuan. Tidak terlihat jelas tanda-tanda umum pada satwa mati, salah satu yang tanda yang terlihat hanyalah adanya darah yang keluar dari lubang-lubang kumlah (anus, mulut dan hidung). Petugas [NAMA MASING_MASING] kemudian mengambil sampel berupa spesimen darah yang keluar dari lubang-lubang kumlah dan mengambil foto yang diperlukan

http://agrilifecdn3.tamu.edu/wp-content/uploads/2016/09/AnthraxDeer.png

Petugas [NAMA MASING_MASING] kemudian melaporkan kepada Kepala [TULISKAN MASING_MASING NAMA INSTANSI]dan meminta bantuan Dokter Hewan untuk melakukan verifikasi terhadap temuan ini. Verifikasi dilakukan oleh Drh Amir dengan melakukan pemeriksaan informasi yang dikumpulkan dan wawancara dengan Petugas yang menemukan kasus pertama kali. Sampel yang diterima kemudian dikirimkan ke BVET Banjarbaru untuk dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit Anthraks.

[HASIL VERIFIKASI DOKTER HEWAN TERLAMPIR]

Pada tanggal 25 Januari 2017, hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan kepada Drh. Amir dan kepala [NAMA INSTANSI MASING_MASING]. Hasil menunjukan positif Anthraks. Berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan beberapa staf di TN/BKSDA bersama-sama Drh Amir dan TN/BKSDA memutuskan untuk melakukan Investigasi lanjutan untuk memastikan penyakit ini tidak membahayakan konservasi Rusa Sambar dan satwa lainnya di TN/BKSDA. Satwa-satwa mati cukup jauh dengan jarak (± 15 KM) dengan pemukiman terdekat

Tim Investigasi dibentuk dengan juga melibatkan pihak eksternal yaitu dari FKH IPB, BVET Banjarbaru, Kementan dan KemenLHK.

[INVESTIGASI LANJUTAN]

Berdasarkan hasil investigasi diketahui lebih lanjut bahwa secara total jumlah Rusa Sambar yang ditemukan mati dengan gejala yang sama pada masa periode investigasi (tgl 27 Januari-2 Februari 2017) adalah 4 ekor dengan satwa

  • Tgl 27 Januari 2017 1 ekor ditemukan mati dengan gejala yang mengeluarkan darah pada lubang-lubang kumlah
  • Tgl 29 Januari 2017 2 ekor ditemukan mati dengan gejala yang sama
  • Tgl 2 Februari 2017 1 ekor itemukan mati dengan gejalan yang sama

Image result for deer with anthrax Berdasarkan pemeriksaan lanjutan semua menunjukan gejala positif terhadap Anthraks. Satwa-satwa tersebut ditemukan dalam radius 1 KM2 . Juga diketahui bahwa curah hujan cukup tinggi pada Bulan Januari 2017. Dari hasil diskusi internal tim Investigasi direkomendasikan bahwa TN/BKSDA akan melakukan surveilans secara intensif dilokasi tempat ditemukan satwa dalam radius lebih dari 10 KM2.

 

 

Skenario 3:

Kawasan [TULISKAN NAMA LOKASI KEJADIAN DI WILAYAH KERJA ANDA] secara administratif berada di [LOKASI WILAYAH KERJA ANDA-RT/RW, Nama Desa, Nama Kecamatan Nama Kabupaten, Nama Provinsi]. Kawasan ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sering dikunjungi masyarakat. Terletak pada [KOORDINAT GPS untuk LOKASI KEJADIAN dalam Format Degree Minute Second], pengunjung akan dimanjakan dengan pesona alam yang ada.

Namun pada tanggal 1 Maret 2017, Kepala TN/BKSDA Kalimantan Barat, mendapatkan laporan dari salah satu stafnya [NAMA MASING_MASING] [ALAMAT RUMAH DAN NO TELP MASING_MASING] tentang ditemukannya 3 ekor burung Kutilang mati (Pycnonotus sp) di Kawasan [TULISKAN NAMA LOKASI KEJADIAN DI WILAYAH KERJA ANDA]. Ketiga ekor burung tersebut ditemukan mati di daerah yang berdekatan. Berdasarkan pengamatan dan laporan stafnya diketahui bahwa burung tersebut mati dengan tanda-tanda luka terbuka di bagian perut dan kepala, diduga dimangsa oleh predator.

Dari 3 ekor burung yang ditemukan, 1 ekor burung sudah dalam keadaan busuk dan 2 ekor burung masih dalam keadaan utuh. Jarak ditemukan ke tiga ekor tersebut tidak jauh yaitu dalam satu area sekitar 100M2.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa burung tersebut mati bukan disebabkan dari penyakit tindak lanjut yang dilakukan adalah melakukan surveilans untuk kejadian yang sama dan dilaporkan ke Kepala TN/BKSDA Kalimantan Barat.

 

 

Skenario 4:

Pada tanggal 12 Desember 2016, Seorang petugas PEH yang bernama [NAMA MASING_MASING] [ALAMAT RUMAH DAN NO TELP MASING_MASING] yang sedang melakukan patroli bersama koleganya [TULISKAN SALAH SATU NAMA KOLEGA ANDA] menemukan seekor Orang Utan (Pongo pygmaeus) yang tergeletak diatas dahan dengan keadaan tidak bernafas. Orang Utan tersebut ditemukan didaerah lereng di wilayah kerja petugas yang berbatasan dengan daerah pedesaan. Orang Utan tersebut terlihat mengalami luka diduga terkena tembakan di bagian dada. Petugas yang menemukan bersama-sama mencoba mendekati Orang Utan tersebut dan melakukan pengamatan lebih dekat dan terlihat bahwa satwa tersebut sudah mati.

Lokasi ditemukannya Orang Utan ini berada di perbatasan [LOKASI WILAYAH KERJA ANDA-RT/RW, Nama Desa, Nama Kecamatan Nama Kabupaten, Nama Provinsi]dengan lokasi koordinat [KOORDINAT GPS untuk LOKASI KEJADIAN dalam Format Degree Minute Second]. Komunikasi dan pelaporan dilakukan kepada Kepala TN/BKDSA mengenai temuan petugas lapangan ini.

Berdasarkan pengetahuan petugas diketahui bahwa Orang Utan sering dianggap hama didaerah perbatasan ini karena sering mengambil hasil kebun masyarakat. Tindak lanjut dan verifikasi Dokter Hewan tidak dilakukan karena luka tembak yang ditemukan pada satwa. Satwa Orang Utan yang mati kemudian diamankan untuk barang bukti dan dibuat berita acara dan dokumen laporan kejadian.

 

 

Skenario 5:

Di [TULISKAN NAMA LOKASI KEJADIAN DI WILAYAH KERJA ANDA] yang berlokasi di [LOKASI WILAYAH KERJA ANDA-RT/RW, Nama Desa, Nama Kecamatan Nama Kabupaten, Nama Provinsi] selama 2 hari belakangan menemukan Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) yang mati (dari informasi yang diperoleh dari laporan masyrakat ditemukan 2 ekor Bangau Tongtong mati dengan menunjukan gejala mengeluarkan cairan dimulutnya). Pada hari ini tanggal 8 Mei 2016, salah satu petugas yang bernama [NAMA MASING_MASING] [ALAMAT RUMAH MASING_MASING] juga melaporkan hal yang sama pada Bangau Tongtong. Ketiga satwa tersebut ditemukan pada lokasi yang berdekatan dengan titik koordinat berikut [KOORDINAT GPS untuk LOKASI KEJADIAN dalam Format Degree Minute Second]

Berdasarkan laporan dari masyarakat dan pengamatan petugas diketahui bahwa lokasi ditemukan Bangau Tongtong merupakan lokasi persinggahan burung migrasi. Tindak lanjut dan verifikasi Dokter Hewan dilakukan karena tidak ada indikasi akibat perburuan atau predator. Satwa Burung Tongtong kemudian dikirimkan berupa sampel utuh ke BVET Banjarbaru dan pengambilan foto dilakukan untuk merekam kejadian kasus selain itu juga dibuat berita acara dan dokumen laporan kejadian.

[LIHAT HASIL VERIFIKASI OLEH DOKTER HEWAN]

Pada tanggal 9 Mei 2016, Kepala TN/BKSDA mengkontak Drh. Amir untuk melakukan verifikasi laporan kasus yang ditemukan. Berdasarkan wawancara dengan petugas dan pembelajran pelaporan. Drh Amir memutuskan untuk menunggu hasil laboratorium (tidak melakukan pengambilan sampel tambahan) dan meminta untuk melakukan pengamanan lokasi dan melakukan identifikasi satwa lain yang ditemukan di lokasi satwa mati ditemukan.

Pada tanggal 10 Mei 2016, hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan kepada Drh. Amir dan kepala [NAMA INSTANSI MASING_MASING]. Hasil menunjukan positif Flu Burung (AI H5). Berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan beberapa staf di TN/BKSDA bersama-sama Drh Amir dan TN/BKSDA memutuskan untuk melakukan Investigasi lanjutan untuk memastikan penyakit ini tidak membahayakan kawasan pemukiman terdekat (± 500 Meter) dan konservasi satwa lainnya di TN/BKSDA didaerah lokasi ditemukan satwa mati.

Tim Investigasi dibentuk dengan juga melibatkan pihak eksternal yaitu dari FKH IPB, BVET Banjarbaru, Kementan dan KemenLHK.

[INVESTIGASI BERSAMA]

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan sejak 11-15 Mei 2016 diketahui lebih lanjut bahwa tidak ditemukan kematian satwa lain namun berdasarkan pengamatan tim diketahui terdapat beberapa faktor risiko yang ditemukan yaitu adanya kawasan yang cukup luas dan merupakan area seringkali didatangi sekelompok burung air dan burung migran. Tim Investigasi merekomendasikan untuk melakukan penutupan dan pengawasan kawasan ini oleh pihak TN/BKSDA dengan harapan memperkecil kemungkinan transmisi penyakit dari ke kawasan penduduk atau ke hewan domestik.

Pengawasan/surveilans dilakukan terhadap Bangau Tongtong ini oleh pihak TN/BKSDA bersama-sama pihak BVET untuk dilakukan pengambilan sampel untuk burung-burung air dikawasan tersebut secara reguler. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah burung-burung air ini adalah carrier pembawa penyakit flu burung (Avian Influenza) atau tidak.